Wawancara Sri Wahyuni, Perak Terasa seperti Mimpi

Lifter putri Sri Wahyuni Agustiani menjadi penyumbang medali pertama Indonesia pada Olimpiade Rio 2016. Dia meraih perak dari nomor 48 kg, Sabtu (6/8) di Riocentro Pavillion 2, Rio de Janeiro, Brasil.

Yuni berhasil meraih angkatan snatch 85 kg, clean & jerk 107 kg, dengan angkatan total 192 kg. Emas nomor ini jatuh ke tangan lifter Thailand, Sopita Tanasan, yang sukses mengangkat total beban 200 kg (snatch 92 kg dan clean & jerk 108 kg).

Yuni menjadi lifter putri keempat Indonesia yang bisa meraih medali Olimpiade. Sebelumnya, Lisa Rumbewas meraih perak pada Sydney 2000 (48 kg) dan Athena 2004 (53 kg).

Selain itu, ada pula Sri Indriyani yang meraih perunggu di Sydney 2000 (48 kg), lalu Winarni yang juga meraih perunggu di Sydney 2000 (53 kg).

Bagaimana Yuni, sapaan akrabnya, setelah meraih medali? Apa target berikutnya? Berikut wawancara BOLA dengan Yuni setelah penyerahan medali dan dua hari berikutnya.

Bagaimana rasanya setelah dua hari berlalu sejak Anda meraih medali Olimpiade untuk kali pertama?

Rasanya masih seperti mimpi bisa dapat medali Olimpiade. Pas bangun tidur masih suka kaget dan berpikir ini mimpi apa enggak sih? Waktu lihat ke samping, ternyata sudah ada medali perak. Medalinya memang saya taruh di meja samping tempat tidur saya.

Masih ada yang mengganjal tidak dari hasil kemarin?

Iya. Harusnya saya bisa mengangkat beban saat clean & jerk. (Yuni berpeluang meraih emas nomor ini. Setelah melakukan angkatan clean & jerk pertama seberat 107 kg, dia tertinggal 8 kg dari Tanasan untuk total angkatan. Jika dia bisa mengangkat beban 115 kg, poin mereka akan sama.

Jika jumlah angkatan keduanya sama, Yuni akan keluar sebagai pemenang karena memiliki berat badan lebih kecil yaitu 47,25 kg. Berat badan Sopita adalah 47,91 kg. Namun, dari dua kali kesempatan mengangkat beban seberat 115 kg, Yuni selalu gagal.)

Setelah Lisa Rumbewas di Olimpiade 2004, Anda lifter putri pertama yang menyumbang medali. Bagaimana rasanya?

Alhamdulillah saya bisa menjadi penerus senior. Akhirnya sekarang ada yang menggantikan mereka. Sekarang pertanyaannya, ada tidak yang siap menggantikan saya?

Perak ini dipersembahkan untuk siapa?

Pak Djoko Pramono karena dia sudah seperti ayah saya sendiri. Medali ini juga untuk semua orang yang berulang tahun pada bulan Agustus, seperti saya.

Doa apa saja yang biasa Anda ucapkan sebelum melakukan angkatan?

Saya selalu baca doa Al-Fatihah dan mengucapkan Allahu Akbar tiga kali setiap mau mengangkat beban, bahkan sebelum naik ke panggung. Kalau sudah berdoa begitu, hati jadi tenang pas angkat beban. Saya juga selalu membawa tasbih. Saya suka sekali wirit. Setiap ada waktu pasti saya lakukan.

Apa yang biasa Anda lakukan ketika tidak sedang berlomba?

Saya lebih senang tetap berada di kamar daripada jalan-jalan. Saya suka nonton film di kamar, hanya sesekali saja nonton di bioskop. Saya suka nonton sinetron. Saya juga biasa mendengarkan musik. Soal jenis musiknya, saya suka mendengarkan musik religi, dangdut, pokoknya semua deh.

Dengan meraih perak, otomatis Yuni akan mendapatkan bonus sebesar 2 miliar rupiah. Rencananya, uangnya mau dipakai untuk apa?

Saya tidak terlalu memikirkan soal bonus. Saya melakukan ini dengan ikhlas demi Indonesia. Andai kata tidak ada bonus pun, tidak masalah. Uang bisa dicari. Kalau medali Olimpiade kan susah banget dicari. Harus menunggu setiap empat tahun juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *