Eko Yuli, Enggan Berhenti Sebelum Emas

Eko Yuli Irawan (27) menjadi penyumbang medali kedua Indonesia dari angkat besi pada Olimpiade Rio 2016. Eko mendapatkan perak dari nomor 62 kg setelah mencatat total angkatan 312 kg, Senin (8/8).

Emas nomor ini diraih Oscar Figueroa (Kolombia) setelah berhasil mencatat total angkatan seberat 318 kg (snatch 142 kg dan clean & jerk 176 kg).

“Saya bersyukur bisa mendapatkan perak. Dari segi medali, kali ini lebih bagus dari Olimpiade sebelumnya. Namun, dari jumlah angkatan memang kalah dibandingkan sebelumnya,” kata Eko saat ditemui BOLA seusai menjalani tes doping di Riocentro Pavillion 2, Rio de Janeiro.

Bagi Eko, raihan ini merupakan keping medali ketiga dari tiga kali turun di Olimpiade. Pada dua Olimpiade sebelumnya, dia selalu mendapatkan perunggu.

Pada Olimpiade London 2012, total angkatan Eko adalah 317 kg. Ketika itu, dia meraih jumlah angkatan yang sama dengan Figueroa.

Eko harus puas dengan perunggu karena memiliki bobot lebih berat dibanding Figueroa. Emas nomor ini jadi milik Kim Un-guk (Korut) pada 2012.

Pada Olimpiade pertamanya di Beijing (2008), Eko turun di kelas yang lebih ringan, yaitu 56 kg. Dia kalah dari Long Qingquan (China) dan Hoang Anh Tuan (Vietnam), yang masing-masing meraih emas dan perak.

“Di Indonesia, tidak ada atlet lain yang bisa meraih tiga medali Olimpiade secara beruntun. Namun, cita-cita utama saya adalah meraih emas. Jadi, saya masih akan lanjut,” ujar Eko.

Eko akan mendapatkan bonus sebesar 2 miliar rupiah dari hasil meraih medali perak ini. Dia sudah punya rencana akan dipakai untuk apa sebagian dari bonus tersebut.

“Bonusnya untuk memberangkatkan mertua naik haji. Nanti beli seekor sapi juga untuk kurban. Bonus ini kan bukan hanya milik saya, harus ada yang dizakatkan,” kata Eko.

Terlalu Percaya Diri

Eko sebenarnya punya peluang besar untuk mendapatkan emas pada nomor ini menyusul cederanya Chen Lijun (China), yang merupakan lawan terkuat.

Chen mengalami cedera setelah melakukan angkatan pertama snatch. Dia tidak bisa lagi mengangkat beban dan didiskualifikasi.

Eko mengakui bahwa dengan mundurnya Chen, peluang untuk meraih emas sangat terbuka. Lawan utamanya adalah Figueroa.

Namun, Eko seperti membuang peluang ketika gagal melakukan dua angkatan snatch seberat 146 kg. Dia berhasil mengangkat beban 142 kg pada percobaan pertama.

Tanpa Chen, Eko justru lengah. Dia menjadi terlalu bersemangat dan akhirnya jadi bumerang.

“Pada angkatan kedua, tarikan saya kurang kuat, jadi gagal. Yang ketiga, tarikan saya justru terlalu kuat dan akhirnya malah tidak kena,” kata Eko.

Dengan hasil angkatan yang sama untuk kategori snatch (142 kg), Figueroa dalam posisi lebih diuntungkan karena dia sangat kuat untuk angkatan clean & jerk.

“Karena tidak bisa unggul untuk angkatan snatch, saya jadi dalam posisi mengejar saat clean & jerk. Dia memang sangat kuat di angkatan ini,” ujar Eko.

Dari tiga kali kesempatan, Figueroa dua kali berhasil melakukan angkatan dengan hasil terbaik 176 kg. Sementara itu, Eko hanya sekali berhasil mengangkat beban seberat 170 kg. Emas pun jatuh ke tangan Figueroa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *